Musim hujan telah tiba. Selain waspada bencana banjir, warga juga harus mengantisipasi penyakit demam berdarah dengue (DBD). Sebab, saat musim hujan, biasanya kasus DBD meningkat.

Berdasar data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo, selama kurun waktu 10 bulan terakhir, tercata ada 253 warga yang terpapar DBD. Sebagian besar masih belia. Di antara jumlah tersebut, sejak Januari hingga Oktober, ada empat orang yang meninggal dunia.

”Rata-rata masih berumur di bawah 15 tahun. Pasien terakhir yang meninggal masih berusia 14 tahun,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Dinkes Sidoarjo dr M. Atho’illah, Jumat (5/11).

Selain itu, masih ada pasien dewasa hingga lanjut usia. Namun, jumlahnya tidak sebanyak pasien masih anak-anak dan remaja.

Untuk menanggulangi bertambahnya kasus DBD, terutama menghadapi musim hujan, dinkes mulai gencar menyosialisasikan ancaman penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut. Bahkan, pemkab mengeluarkan surat edaran (SE) terkait dengan kewaspadaan DBD.

Ada lima poin penting dalam surat edaran tersebut yang harus dilakukan seluruh pihak. Di antaranya, mengingatkan dan mengajak masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui berbagai media promosi.

Caranya, menggiatkan 3M plus. Yakni, menguras, menutup tempat penampungan air, dan memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas minimal seminggu sekali di lingkungan tempat tinggal. Juga menghindari gigitan nyamuk dengan memakai antinyamuk, memasang kelambu, memelihara ikan pemakan jentik, serta menanam tanaman antinyamuk.

Selain itu, memantau jentik secara rutin, berkesinambungan, dan mandiri melalui penerapan satu rumah satu jumantik (1R1J). Tak lupa, mewujudkan angka bebas jentik (ABJ) per wilayah lebih dari 95 persen.

”ABJ di Sidoarjo saat ini 90,1 persen,” ujar Atho’illah. Angka tersebut terus ditambah untuk mewujudkan target secara optimal. Dengan memaksimalkan upaya pencegahan DBD. Terutama pada musim hujan seperti sekarang.

Selain rutin melakukan 3M plus, warga harus peduli dengan gejala sakit yang dirasakan. Jika ada yang demam, harus segera dibawa ke pelayanan kesehatan. Jangan sampai terlambat diperiksa. ”Biasanya, yang meninggal terlambat datang ke fasilitas kesehatan. Saat datang, kondisinya sudah shock,” ungkapnya. 

Sumber : Jawa Pos