DOMINICUS HUSADA *)

FENOMENA yang sedang dialami Singapura dan beberapa negara di Eropa minggu ini memang mengkhawatirkan. Kasus Covid-19 naik tinggi sekalipun cakupan imunisasi sangat baik. Singapura adalah salah satu negara dengan capaian imunisasi Covid-19 tertinggi di dunia. Mayoritas vaksin yang digunakan pun adalah vaksin mRNA.

Sebenarnya kejadian serupa sudah dihadapi beberapa negara lain seperti Israel yang juga memiliki cakupan imunisasi yang tinggi. Amerika Serikat bahkan mencatat jumlah kasus yang mirip dengan ketika vaksin belum ditemukan. Padahal, saat ini cakupan mereka sudah sekitar 70 persen. Timbul berbagai pertanyaan, baik dari para pakar maupun kelompok awam. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Ada beberapa kemungkinan penjelasan terhadap fenomena ini sekalipun bukti yang lebih kuat terus dikumpulkan sebagai bahan pembelajaran yang sangat baik bagi negara lain di seluruh dunia. Pertama, sekalipun angka meningkat tajam, kelompok terbesar yang terkena dan bahkan sampai meninggal adalah mereka yang tidak divaksinasi.

Benar bahwa ada orang yang sudah divaksin yang ikut menjadi korban. Namun, kelompok tervaksin ini hanya minoritas. Orang yang tidak divaksinasi adalah mereka yang memang menolak untuk menerima vaksin, maupun mereka yang belum bisa divaksin karena alasan tertentu. Anak di bawah 11 tahun, misalnya, adalah tergolong kelompok terakhir itu.

Kedua, adanya varian Delta memang mengacaukan perkiraan sebelumnya. Kemampuan penularan yang lebih hebat membuat basic reproduction number varian Delta meningkat tajam sehingga kemampuan vaksin akan ikut terpengaruh, sekalipun masih di atas batas yang dikehendaki WHO.

Ketiga, negara dengan pemberian vaksin lebih awal seperti Inggris dan Israel memang akan lebih dulu mengalami penurunan sistem kekebalan sejalan dengan berlalunya waktu. Negara yang sekarang sedang tidak menyaksikan peningkatan kasus umumnya adalah negara yang menjalankan vaksinasi lebih terlambat.

Beberapa pakar menyebutkan 6–9 bulan sebagai lama perlindungan yang dapat diandalkan untuk dua dosis vaksin mRNA. Pada dua dosis vaksin inaktif kekebalan biasanya akan lebih pendek. Vaksin berbasis vektor virus seperti Oxford/AZ relatif lebih tahan lama dan karena itulah belum terdengar suara untuk memberikan injeksi ekstra kepada penerima vaksin jenis tersebut.

Keempat, menegaskan yang ditulis di atas, memang jenis vaksin yang digunakan akan berpengaruh. Sekalipun demikian, dengan terbatasnya penyediaan, prinsip untuk saat ini masih tetap bahwa kita tidak boleh memilih-milih vaksin. Apa yang tersedia sebaiknya itu yang digunakan dan diterima.

Kelima, saat ini kita juga mengetahui bahwa interval antara satu vaksin dengan vaksin berikutnya ikut berperan. Jarak yang lebih panjang akan menghasilkan kekebalan yang lebih baik. Pada periode awal pelaksanaan imunisasi Covid-19, sebagian vaksin memilih interval yang lebih pendek. Hal ini sejalan dengan keinginan WHO untuk membentuk kekebalan secepat mungkin. Dalam perjalanannya, beberapa vaksin mengalami perubahan interval sejalan dengan semakin banyaknya data yang diperoleh.

Keenam, haruslah dipahami bahwa tujuan utama pemberian vaksin adalah mencegah kematian dan sakit berat. Mencegah penularan merupakan target terakhir karena sangat sulit dicapai. Orang boleh tertular, tetapi diharapkan tidak jadi berat dan tidak meninggal. Hanya satu dua vaksin di dunia ini yang sangat berhasil mencegah penularan.

Dengan pertimbangan tersebut, sekalipun cakupan imunisasi sangat tinggi, kasus masih akan dijumpai tetapi tidak sampai meninggal. Jika kita memulai kegiatan tatap muka sekolah dan membuat target penularan nol, sesungguhnya hal tersebut relatif tidak mungkin dicapai. Diperlukan beberapa kondisi lain untuk tiba pada tujuan tersebut dan sayangnya pada Covid-19 ada beberapa hal yang tidak akan bisa dipenuhi.

Ketujuh, belum ada satu pun vaksin di dunia yang bisa memproteksi seratus persen secara sempurna. Semua vaksin memiliki kelemahan masing-masing. Pada Covid-19, vaksin mRNA yang mencatat efikasi tertinggi dalam uji klinis hanya mampu mencapai angka di kisaran 96 persen.

Kedelapan, sesungguhnya, jika herd immunity tercapai, cakupan yang baik akan menutup kelompok yang tidak tervaksinasi. Sayang sekali untuk Covid-19 tampaknya hal tersebut juga akan semakin sulit diraih. Adanya mutan, penurunan kekebalan setelah periode tertentu, serta bertambahnya target imunisasi yang akan memperberat tugas mencapai ambang batas ideal dan saling bekerja sama membuat capaian herd immunity semakin jauh. Bahkan, jika saja varian Delta berubah menjadi varian lain yang lebih hebat dalam hal penularan, harapan kita mungkin tak akan pernah menjadi kenyataan. Apalagi ketimpangan cakupan di dunia begitu terasa. Sementara beberapa negara sudah mencapai angka di atas 80 persen, banyak negara Afrika belum bisa mendapatkan 5 persen.Baca juga:Naik Kereta Api di Daop 8 Surabaya, Masa Berlaku PCR 3×24 Jam

Apa yang disarankan untuk dilakukan selanjutnya? Tentu kegiatan imunisasi Covid-19 harus terus ditingkatkan. Saat ini negara kita baru bisa mencapai setengah jumlah penduduk yang layak divaksinasi untuk suntikan pertama. Masih puluhan juta sasaran yang harus dijangkau. Sungguh suatu tugas berat. Terhadap mereka yang sudah menerima dosis pertama, melengkapi dosis kedua adalah keputusan bijaksana, dan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin sesuai persyaratan yang telah ditetapkan Kemenkes.

Pada saatnya, suntikan ketiga untuk penerima vaksin yang tidak berbasis vektor virus akan diberikan, namun prioritas belum ditujukan kepada kelompok ini. Selain itu, protokol kesehatan nonvaksin harus terus dilaksanakan. Kita tahu vaksin sendirian saja sangat tidak memadai. Lantas, yang juga penting adalah kesiapan kita untuk melihat terjadinya penularan, alias kasus, sekalipun semua proteksi sudah diupayakan semaksimal mungkin.

Bagi semua pakar, penularan adalah keniscayaan. Mengharapkan penularan nol untuk saat ini belum dimungkinkan. Itu berarti, jika kegiatan masyarakat berskala besar dimulai dalam berbagai bentuk seperti sekolah, pesta, kegiatan keagamaan, dan lain-lain, peningkatan kasus akan senantiasa mengikuti.

Bagaimanapun tujuan utama vaksinasi adalah mencegah kematian dan sakit berat, bukan semata-mata ditujukan untuk menghentikan penularan. Kita perlu menghitung ulang kriteria yang kita gunakan dan tidak sekadar menggunakan angka penularan sebagai indikator tunggal. (*)

sumber : Rubrik OPINI JP

*) DOMINICUS HUSADA, Konsultan infeksi anak FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya, anggota tim vaksinasi Covid-19 Universitas Airlangga, sekretaris Komda KIPI Jawa Timur