JABON, SIDOARJONEWS.id – Selama pandemi, jumlah limbah medis meningkat drastis. Termasuk limbah masker yang bekas digunakan oleh masyarakat.

Di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jabon contohnya, bisa dengan mudah dijumpai limbah masker bercampur dengan sampah rumah tangga.

“Selama pandemi ini makin banyak sampah-sampah masker. Cuma karena tidak laku dijual di pengepul, jadi ya dibiarkan saja,” ujar Solikhin, salah satu pemulung di TPA Jabon, Kamis (2/8).

Limbah masker yang ada di TPA Jabon bisa jadi berasal dari mereka yang sehat, OTG, atau isolasi mandiri dengan gejala ringan. Sebab, limbah masker yang berasal dari fasilitas kesehatan pasti telah terpilah dan tidak berakhir di tempat pembuangan sampah Domestik.

Sebenarnya, membuang limbah masker masyarakat di tempat sampah domestik. Sebab, dikutip dari Pedoman kelola limbah masker, masker yang telah digunakan masyarakat tidak masuk dalam kategori limbah medis.

Meski demikian, tetap ada tahapan proses yang harus dilakukan sebelum membuang masker ke tempat sampah.

Pertama, kumpulkan masker yang telah terpakai lalu desinfeksi dengan cara merendamnya di larutan disinfektan. Kemudian, rusak bagian tengah masker dan putuskan talinya agar tidak bisa digunakan lagi. Barulah diperbolehkan membuangnya di tempat sampah.

Namun, pertanyaannya adalah apakah semua masyarakat telah menjalankan tahapan tersebut saat membuang maskernya? Dari temuan di TPA Jabon, kebanyakan limbah masker masih dalam keadaan utuh, tidak rusak bagian tengah atau putus talinya.

Banyaknya limbah masker yang tidak melalui proses pengelolaan sesuai pedoman tersebut tentu beresiko membuat pemulung dan petugas TPA terpapar virus Covid-19.

“Khawatir ya pasti ada. Tapi bagaimana lagi, kami cari duitnya dari sini,” imbuh Solikhin.

Tiap Hari Diisi 500 Ton, Sampah TPA Jabon Kini Menggunung dan Hampir Overload

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jabon di kabupaten Sidoarjo hampir overload.

Data yang diperoleh sidoarjonews.id, kapasitas muara sampah se-Sidoarjo itu kini hanya tersisa sedikit. Padahal sampah yang datang mencapai kurang lebih 500 ton setiap harinya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sampah-sampah yang berasal dari seantero Kota Delta telah menggunung. Ketinggiannya diperkirakan lebih dari 10 meter yang merupakan ambang batas tumpukan.

Dari pagi hingga sore hari, ratusan truk pengangkut sampah hilir mudik menurunkan muatan. Tiga eskavator (back hoe) dikerahkan untuk menaikkan sampah dari bawah ke atas secara estafet.

“Kalau dengan sampah swasta (perusahaan dan perumahan) sekitar 120-an truk per hari. Setiap hari kami beroperasi, memang kalau hari Minggu agak sedikit yang datang,” ujar Lilik, petugas bagian penimbangan truk sampah TPA Jabon, Kamis (2/9).

Menurut Lilik, muatan truk relatif berbeda-beda sesuai jenisnya. Dump truk misalnya, bisa memuat 3 – 4.5 ton sekali angkut. Ada pula jenis truk yang lebih kecil bisa memuat 2.5 – 3 ton. Dengan muatan sebanyak itu, tak heran bila sehari TPA Jabon kedatangan sampah yang rata rata sekitar 450 – 500 ton.

Sulkhan, salah seorang sopir truk sampah mengatakan dalam sehari ia bisa mengantarkan sampah sebanyak dua kali. Sampah-sampah itu ia angkut dari dua TPS di wilayah Utara Sidoarjo.

“Iya, tinggal di-drop saja di sini, ditumpuk saja begitu. Nanti back hoe menaikkan sampah ke atas. Lalu di atas diratakan,” ujarnya.

Sampai saat ini, TPA Jabon masih menggunakan sistem open dumping. Memang ada alat komposting dan pencacah sampah. Namun belum sepenuhnya beroperasi. Kalaupun beroperasi itu hanya sedikit membantu mengurangi sedikit sampah di TPA jabon.

Sebab, selama ini mesin komposting hanya mengolah sampah ranting dan dedaunan dari giat perantingan pohon di Sidoarjo. Sedangkan, wacana penerapan sistem sanitary landfill seperti di TPA Benowo Surabaya, hingga kini belum beroperasi.

Penumpukan sampah yang terus menerus dipaksakan melebihi kapasitas TPA Jabon tentu akan berpotensi menjadi bahaya. Tidak hanya bagi petugas di TPA, tapi juga lingkungan sekitarnya.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo perlu bergerak cepat untuk mengantisipasinya. Dibutuhkan solusi yang komprehensif dari hilir hingga ke hulu guna mengatasi permasalahan sampah ini.

sumber : sidoarjonews.id