Sidoarjo, Meski tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan sudah menurun namun Bupati Sidoarjo diminta tidak gagal fokus dulu dalam menangani pandemi Covid-19 karena masa kritisnya belum berakhir.

“BOR (Bed Occupancy Ratio) itu tidak bisa dijadikan parameter bahwa pandemi Covid-19 di Sidoarjo sudah bisa dikendalikan. Mengurangi BOR cukup nambah bed di rumah sakit, otomatis prosentasenya bakal turun,” tukas Sekretaris Lembaga Kesehatan Nahdhatul Ulama (LKNU) Sidoarjo, Badruzzaman, Kamis (05/08/2021) siang tadi.

Hal itu disampaikannya terkait pernyataan Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali yang dalam pemberitaan sebelumnya menyatakan kondisi pandemi Covid di kota delta sudah mulai menunjukkan tren menurun. Indikatornya adalah BOR di 19 Rumah Sakit Rujukan yang sebelumnya berada di angka 90% telah bergerak ke angka 83-85%.

Karena itu saat ini Gus Muhdlor, panggilan akrab bupati Sidoarjo, akan lebih mengedepankan program pembagian bantuan sosial (bansos) berupa paket-paket sembako pada masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

Tentang hal itu Badrus mengatakan parameter paling valid untuk melihat kondisi pandemi Covid di satu wilayah adalah jumlah warga yang terkonfirmasi positif, lalu yang menjalani rawat inap serta jumlah kematian akibat infeksi virus tersebut.

Data yang ada padanya menunjukkan, per 4 Agustus kemarin jumlah penderita aktif di Kabupaten Sidoarjo sebanyak 3.804 orang. “Angka kumulatif positifnya 21.678 setelah sehari sebelumnya ada penambahan 219 kasus baru.  Cenderung turun ya, tapi untuk bisa disebut sudah terkendali, masih jauh,” sindirnya.

Disisi lain, upaya penanganan di sektor hulu juga masih sangat kurang. Testingnya baru mencapai 33,23% dengan positivity rate ideal 5%. Sedangkan upaya tracing yang kata Bupati akan digenjot, indeksnya justru masih terpuruk di angka 1,19. “Testing terbatas, Tracingnya juga masih kategori terbatas, begitu juga dengan BOR-nya yang seharusnya berada dibawah 70%,” jelas Badrus.

Apalagi, hingga saat ini ia melihat ada anomali data antara kasus aktif dengan BOR. “Menurut Epidemiologi, 20-30% kasus aktif biasanya ditangani di rumah sakit. Coba hitung saja, 30 persen dari 3.804 itu berapa, sedangkan kapasitas bed yang tersedia hanya 1.336 unit. Terus koq bisa dibilang BOR di Sidoarjo 85% itu hitungannya bagaimana?,” imbuh Badrus.

Karena itu ia meminta Bupati dan seluruh jajaran Pemkab Sidoarjo yang membidangi masalah ini untuk tetap fokus pada upaya menekan pertumbuhan angka terkonfirmasi positif seminim mungkin daripada sibuk ngurusi bansos.

“Kalau pake istilahnya Gus Bupati, pertumbuhan kasus aktif itu ibarat ‘debit air’ yang akan memenuhi gentong dan semua wadah lainnya. Jadi kalau memang punya komitmen untuk mengendalikan Covid, ya harus mau kerja keras untuk melakukan testing dan tracing,” pungkasnya.*

sumber : megas-online