Tingginya penambahan kasus baru harian Covid-19 menyebabkan mayoritas kabupaten dan kota di Jatim berubah menjadi daerah risiko tinggi sebaran Covid-19. Pekerja di luar sektor kritis dan esensial diajak diam di rumah.

SIDOARJO, KOMPAS — Tingginya penambahan jumlah kasus baru harian Covid-19 menyebabkan mayoritas kabupaten dan kota di Provinsi Jatim berubah menjadi daerah risiko tinggi sebaran Covid-19. Para pekerja di luar sektor kritikal dan esensial diajak berdiam di rumah agar sebaran penyakit tak semakin parah.

Berdasarkan data yang dirilis Bersatu Lawan Covid-19 pada Selasa (6/7/2021), ada 20 kabupaten dan kota di Jatim yang masuk kategori daerah risiko tinggi sebaran penyakit atau masuk zona merah. Selain itu, ada 18 daerah dengan risiko sedang sebaran Covid-19 berdasarkan 15 indikator epidemiologi.

Sebanyak 20 daerah zona merah itu meliputi Ngawi, Magetan, Ponorogo, Kota Madiun, Kota Kediri, Nganjuk, Lamongan, Sidoarjo, Kota Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Daerah zona merah juga terdapat di Pulau Madura, meliputi Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan.

Selain itu, di Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Lumajang. Saat ini, tidak ada lagi daerah dengan risiko rendah sebaran Covid-19 atau zona kuning dan risiko terkontrol atau zona hijau.

Sebelumnya, Senin (5/7/2021), hanya tiga daerah yang masuk zona merah, yakni Bondowoso, Banyuwangi, dan Kota Madiun. Ada dua daerah berada di zona kuning serta sisanya 33 kabupaten dan kota berada di risiko sedang peta sebaran Covid-19. Artinya, jumlah daerah zona merah naik hampir tujuh kali lipat.

Perburukan pandemi Covid-19 di Jatim juga ditandai dengan kenaikan penambahan kasus baru harian yang memecahkan rekor baru. Terjadi penambahan kasus baru harian sebanyak 1.808 kasus pada Selasa (6/7/2021). Penambahan kasus harian itu tertinggi sepanjang pandemi Covid-19 dan lebih tinggi dari hari sebelumnya, 1.543 kasus dalam sehari.

Penambahan kasus baru tersebut menyebabkan jumlah kasus kumulatif terkonfirmasi positif Covid-19 di Jatim menjadi 182.076 kasus. Dari jumlah tersebut, 11.186 orang dirawat, 157.467 kasus dinyatakan sembuh, dan 13.423 orang meninggal.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, dalam kunjungannya ke Sidoarjo, Rabu (7/7/2021), mengatakan, melonjaknya jumlah daerah berisiko tinggi sebaran Covid-19 merupakan peringatan bagi seluruh masyarakat. Hal itu terjadi salah satunya karena pergerakan orang yang tinggi sehingga mempercepat sebaran Covid-19.

”Mobilitas masyarakat ini menjadi penting agar diperhatikan bersama. Oleh karena itulah, saya mengajak masyarakat yang tidak bekerja di sektor kritis dan esensial, monggo berdiam di rumah. Sementara menahan diri tidak keluar rumah,” ujar Khofifah, di Balai Desa Sawotratap.

Mengacu pada Instruksi Mendagri Nomor 15 Tahun 2021 tentang PPKM darurat, pekerja di sektor nonesensial bekerja dari rumah 100 persen. Sektor esensial menerapkan pola kerja 50 persen di kantor dengan protokol kesehatan ketat. Hanya sektor kritis yang memberlakukan 100 persen bekerja dari kantor.

Kluster desa

Dari 20 kabupaten dan kota di Jatim yang masuk zona merah, Sidoarjo merupakan salah satunya. Jumlah kasus terkonfirmasi positif di Sidoarjo mencapai 12.409 kasus pada Selasa. Bahkan, terjadi penambahan 62 kasus baru pada hari itu. Total terdapat 253 kasus yang dirawat.

Salah satu kluster menonjol di Sidoarjo, Desa Sawotratap. Jumlah kasus terkonfirmasi positif di desa ini meningkat menjadi 55 orang dari sebelumnya 23 kasus. Dari 55 kasus tersebut, 53 kasus masih menjalani isolasi mandiri di rumah dan dua orang dirawat di rumah sakit. Pemerintah desa menerapkan karantina lokal untuk mencegah sebaran penyakit semakin meluas.

Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Ali meminta warga yang tengah isolasi mandiri agar mematuhi aturan tidak keluar rumah. Pemda akan membantu pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat karena Pemerintah Desa Sawotratap mulai kewalahan. Alokasi anggaran 8 persen dari APBDes Sawotratap untuk penanganan Covid-19 sudah terpakai.

”Kunci sukses menurunkan penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19, mengurangi mobilitas. Oleh karena itulah, pengawasan akan diperketat,” kata Muhdlor.

Selain membatasi mobilitas warga, Pemkab Sidoarjo juga semakin menggencarkan vaksinasi. Saat ini upaya meningkatkan cakupan vaksinasi masih terkendala banyaknya tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 sehingga mereka harus menjalani isolasi mandiri dan pengobatan.

Mudlor menargetkan vaksinasi menyasar 250-400 orang di setiap puskesmas, sebanyak 26 puskesmas. Jumlah itu akan diperbanyak dengan vaksinasi yang dilakukan oleh TNI dan Polri. Dengan memperluas cakupan vaksinasi diharapkan segera terbentuk kekebalan komunitas sebagai senjata menghadang laju sebaran Covid-19.

sumber: kompas.id