Analisis genomik menjunjukkan, varian Delta telah mendominasi dan menggeser berbagai varian lain SARS-CoV-2 yang lebih dulu beredar di Indonesia. Dominasi varian virus pemicu Covid-19 yang lebih menular ini turut memicu lonjakan kasus yang pada Sabtu (26/6/2021) kembali memecahkan rekor terbanyak dengan 21.095 kasus baru.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan, analisis terhadap data pengurutan genom utuh (whole genome sequencing/WGS) spesimen SARS-CoV-2 di bank data GISAID menunjukkan adanya dominasi garis keturunan (lineage) B.1.617.2 atau yang disebut varian Delta.

”Lineage B.1.1.7 atau varian Alfa dan B.1.470, varian yang sebelumnya dominan di Indonesia sejak awal pandemi mulai hilang. Varian B.1.466.2 yang sebelumnya dominan di Indonesia sejak kuarter terakhir 2020  juga menurun,” katanya.

Menurut Amin, sampel ini memang diambil dari rumah sakit, bukan dari populasi sehingga harus dibaca lebih hati-hati. ”Tetapi, yang sangat penting adalah memperketat protokol kesehatan sekarang, itu yang utama,” katanya.

Dari analisis peneliti Eijkman ini terlihat, varian Delta mulai banyak ditemukan pada sampel yang diperiksa pada Maret 2021 dan semakin membesar bulan Juni 2021, menggeser berbagai varian lain yang telah lebih dulu menyebar. Varian Delta telah ditemukan di Indonesia sejak Januari 2021.

Sementara data Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 menunjukkan, varian yang jadi perhatian yang ditemukan pada Januari adalah 3 Alfa, 1 Beta, dan 2 Delta. Pada Februari hanya ditemukan varian Alfa dan pada Maret ditemukan 4 varian Alfa, 1 Beta, dan 3 Delta.

Bulan April ditemukan 12 varian Alfa, 1 Beta, dan 18 Delta. Pada Mei ditemukan 21 varian Alfa, 2 Beta, dan 117 Delta. Adapun hingga 22 Juni telah ditemukan 1 varian Alfa, 1 Beta, dan 103 Delta. Secara total, jumlah varian Delta dari Indonesia yang terdata di GISAID mencapai 242.

Kepala Pusat Genom Nasional Lembaga Eijkman Safarina G Malik mengatakan, dominasi varian Delta ini disebabkan varian ini memang jauh lebih mudah menular dibandingkan dengan yang lainnya. ”Tren dominasi varian Delta ini juga terjadi di negara lain, seperti di Inggris dan Amerika Serikat,” ujarnya.

Safarina mengatakan, varian Alfa yang juga telah dideteksi di Indonesia sejak Januari saat ini semakin tergeser. ”Karakter virus begitu, mana yang paling kuat dan menulari ke inang, itu yang akan menjadi mayoritas,” ucapnya.

Sangat menular

Epidemiolog Indonesia di Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan, dengan dominasi varian Delta di Indonesia, kita harus lebih bersiap terhadap lonjakan kasus yang diperkirakan memuncak di Jawa pertengahan Juli 2021. ”Pemerintah harus merespons data ini dengan benar. Pengalaman di banyak negara, untuk meresponsnya harus perkuat respons, apa pun vaksin harus dipercepat untuk mengurangi jumlah orang berpotensi jadi berat jika terinfeksi walaupun tetap bisa tertular,” ujarnya.

Namun, vaksinasi ini tidak bisa jadi solusi. ”Kita harus perkuat deteksi dan isolasi penyebaran virus ini sejak di hulu melalui tes dan lacak yang masif. Sejauh ini tes tidak memadai. Harusnya kalau ditemukan 20.000 kasus aktif hari ini, besoknya minimal harus tes sebanyak 400.000, ini kita masih jauh,” ujarnya.

Respons berikutnya, pembatasan mobilitas dan penerapan protokol kesehatan di masyarakat harus lebih kuat lagi. ”Kalau pembatasan dan protokol kesehatan masih longgar seperti sekaarang ini, lonjakan kasus akan semakin mengkhawatirkan dan pastinya angka kematian akan terus meningkat,” katanya.

Dicky mengatakan, hasil pelacakan di Australia pada kasus yang terjadi di salah satu pusat perbelanjaan South Wales menunjukkan penularan varian Delta bisa berlangsung dalam hitungan detik saat orang berpapasan tanpa masker. Dalam momen transmisi yang terekam di CCTV, virus didapati bisa bertahan di udara cukup lama sehingga seseorang bisa menghirupnya dan kemudian terinfeksi.

Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam keterangan pers juga mengatakan, varian delta sebagai, ”varian yang paling mudah menular yang diidentifikasi sejauh ini”.

Dia juga memperingatkan bahwa virus itu sekarang menyebar di setidaknya 85 negara. Varian ini terutama mengkhawatirkan di negara-negara yang memiliki keterbatasan cakupan vaksin.

Menurut data dari Pemerintah Inggris, varian Delta 60 persen lebih mudah menular di dibandingkan dengan varian Alfa, yang sebelumnya merupakan strain dominan di Inggris dan setidaknya 20 negara lainnya. Sementara itu, varian Alfa sekitar 43 persen dan 90 persen lebih menular dibandingkan dengan virus SARS-CoV-2 versi awal.