Kematian pasien Covid-19 di Jawa Timur tertinggi, tetapi seolah dianggap sekadar angka atau statistik karena sebagian warga masih tidak percaya, abai protokol kesehatan, dan meremehkan ancaman dan dampak pandemi.

 

”The war? I can’t find it too terrible! The death of one man: that is a catastrophe. One hundred thousand deaths: that is a statistic!”

Penggalan kalimat itu diterjemahkan dari artikel berbahasa Jerman karya jurnalis satir Kurt Tucholsky dalam Vossische Zeitung edisi 23 Agustus 1925.

Hampir seabad kemudian, kutipan itu masih relevan terutama dalam masa pandemi Covid-19 (Coronavirus disease 2019) akibat virus korona jenis baru (SARS-CoV-2) yang belum mereda. Di Indonesia, wabah yang telah berlangsung 15 bulan justru memburuk dengan serangan mutasi B.1.1.7 Alpha, B.1.351 Beta, dan B.1.617.2 Delta.

Pulau Jawa masih menjadi wilayah terparah. Dalam hal jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19, menurut data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Kamis (24/6/2021), DKI Jakarta terbanyak dengan 494.462 kasus. Namun, dalam hal kematian, Jawa Timur justru paling memprihatinkan, yakni 12.352 orang kehilangan nyawa. Kematian di Jatim setara dengan 22 persen dari 55.949 orang warga Indonesia yang meninggal berstatus pasien Covid-19.

Sekali lagi, jumlah kematian tadi mungkin seperti disebut oleh Kurt Tucholsky sekadar deretan angka atau statistik.  Saat ini, di Jatim, sedang terjadi lonjakan kasus ibarat musim hujan atau musim gugur. Jiwa-jiwa berjatuhan seperti tetes air dari langit atau berguguran seperti daun-daun meninggalkan dahan.

Di Jatim, kasus Covid-19 pertama kali ditemukan pada 6 warga Surabaya dan 2 warga Malang, 17 Maret 2020. Sampai dengan hari ini, warga yang terjangkit sudah berjumlah mendekati 167.000 orang. Yang dinyatakan sembuh, termasuk penulis, 149.000 orang sehingga tingkat kesembuhan 89 persen. Yang meninggal 12.350 orang sehingga tingkat kematian 7,4 persen. Fatalitas jauh di atas anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang 3 persen.

Masih ada lagi, jumlah pasien Covid-19 yang dirawat atau isolasi mandiri hampir 6.000 orang. Angka ini bisa naik atau turun bergantung situasi wabah. Jumlah akan turun saat membaik atau naik saat memburuk. Kapasitas tempat tidur yang disediakan di seluruh fasilitas untuk penanganan pasien Covid-19 di Jawa Timur sementara ini 9.000 orang. Keterisian 67 persen yang berarti di atas situasi ideal, yakni separuhnya.

Tertentu

Tidak semua kabupaten/kota di Jatim dilanda lonjakan kasus. Sejak awal Juni, daerah yang sedang memburuk ialah Bangkalan, Pulau Madura. Sudah sepuluh hari atau sejak Selasa (15/6/2021), kabupaten terbarat di Nusa Garam, julukan Madura, itu berstatus zona merah atau risiko tinggi penularan. Di sini terjadi peningkatan jumlah kasus lima kali lipat dari biasanya di bawah 20 menjadi pernah 100 dalam sehari. Kematian harian dari biasanya 0-1 orang menjadi pernah 17 orang.

Satgas Jatim mengonfirmasi, di Bangkalan sudah ditemukan belasan warga yang terjangkit mutasi B.1.617.2 Delta. Varian ini dua kali lipat lebih cepat menular dan memperburuk kesehatan pasien daripada SARS-CoV-2. Serangan mutasi ini juga ditemukan pada seorang warga Sampang, kabupaten di timur Bangkalan, dan seorang warga Bojonegoro.

Di Jatim juga pernah ditemukan mutasi B.1.1.7 Alpha menjangkiti seorang warga Mojokerto dan seorang warga Sampang. Selain itu, seorang warga Jember diketahui pernah terjangkit mutasi B.1.351 Beta. Ketiga orang ini adalah buruh migran dari mancanegara dan telah sembuh.

Menurut Ketua Rumpun Kuratif Satgas Jatim Joni Wahyuhadi, tingginya kematian pasien terutama karena keterlambatan penanganan. Mayoritas pasien yang meninggal sebelumnya datang sudah dalam kondisi gawat terutama kesulitan bernapas.

Masyarakat agar tetap waspada, disiplin protokol kesehatan, dan sigap memeriksakan diri ketika ada keluhan kesehatan,” ujar Joni, Direktur RSUD Dr Soetomo.

Situasi serupa diutarakan Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron. Meski sedang terjadi lonjakan kasus dengan ancaman kematian tinggi, di Bangkalan masih saja ada kalangan warga yang tidak percaya dengan ancaman Covid-19.

Di awal lonjakan, banyak warga datang ke puskesmas sudah dalam kondisi darurat, setelah dites ternyata positif Covid-19,” kata Abdul Latif.

Gelombang warga yang datang karena sakit dan ternyata terjangkit Covid-19 terus terjadi di Bangkalan sejak awal bulan ini. Situasi itulah yang mengakibatkan fasilitas kesehatan penuh sehingga sebagian warga Bangkalan dirujuk ke Surabaya.

Pada Sabtu (5/6/2021), di Bangkalan dilaporkan 29 tenaga kesehatan di Puskesmas Arosbaya, Puskesmas Tongguh, dan UOBK RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (Syamrabu) terjangkit Covid-19. Seorang bidang di Arosbaya dan dokter spesialis di Syamrabu meninggal dalam status pasien. Sejak saat itulah lonjakan di Bangkalan terjadi dan belum mereda.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim Herlin Ferliana mengatakan, lonjakan kasus di Bangkalan juga terkait dengan serangan mutasi. Akibatnya, penambahan pasien terjadi dengan cepat. Di sisi lain, apabila pasien diketahui dan ditangani lebih awal, akan meningkatkan peluang hidup.

Untuk itu, dengan cepat perlu terus digencarkan 3T, yakni testingtracingtreatment (pengetesan, pelacakan, penanganan),” kata Herlin.

Penanggung Jawab RS Lapangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan 2 Surabaya Laksamana Pertama IDG Nalendra Djaya Iswara mengatakan, tim kesehatan telah menangani lima pasien mutasi Alpha, Beta, dan Delta yang ternyata bisa disembuhkan.

Salah satu kuncinya cepat diketahui seseorang terjangkit dan ditangani,” kata Nalendra.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura Surokim Abdussalam mengatakan, indeks pembangunan manusia di Madura rendah sehingga dalam situasi pandemi Covid-19 turut berkontribusi dalam tingkat literasi masyarakatnya. Bisa dimengerti apabila kalangan warga Madura terutama dengan tingkat literasi yang rendah kemudian tidak percaya dengan Covid-19 dan segala potensi ancamannya.

”Situasi tadi menjadikan penanganan pandemi di Madura lebih menantang,” kata Surokim.

Sebelum lonjakan terjadi, situasi di Madura, secara statistik, memang lebih baik daripada daerah lainnya di Jatim. Jumlah kasus dan kematian relatif rendah. Hal itu karena program 3T di sana terendah di antara kabupaten/kota lainnya di Jatim. Situasinya seolah dibuat baik-baik saja, tetapi sebenarnya bom waktu yang ternyata meledak saat ini.

Ketika lonjakan kasus Covid-19 masih berlangsung di Madura dan daerah lain, misalnya Surabaya menempuh antisipasi ternyata disambut dengan penolakan, demonstrasi, bahkan kericuhan. Kalangan masyarakat Madura menolak penyekatan lalu lintas dan kewajiban tes antigen di Jembatan Suramadu dan penyeberangan Ujung-Kamal yang berlangsung sejak Sabtu (5/6/2021) dan resmi diakhiri pada Rabu lalu atau setelah berjalan 19 hari.

Padahal, kebijakan itu bertujuan menjaring pasien-pasien potensial. Sejauh ini telah ditempuh kewajiban tes antigen terhadap sekitar 50.000 pelintas yang 850 di antaranya dipastikan positif terjangkit Covid-19 dan ditangani. Bahkan, belasan kasus mutasi dari Bangkalan didapat awalnya dari kebijakan di Suramadu dan Ujung-Kamal itu.

Tampaknya musim gugur belum akan berhenti. Jumlah kasus dan kesembuhan bahkan yang berguguran sudah pasti bertambah. Namun, mungkin bagi sebagian dari kita, yang tak juga percaya, yang abai, yang meremehkan, yang tak peduli, itu sekadar angka yang akan terus menanjak.

sumber: kompas.id 25juni2021