Kurang dari dua hari, dua kasus henti jantung menimpa dua olahragawan ternama, Christian Eriksen dan Markis Kido. Meskipun sangat mematikan, si ”pembunuh sunyi” ini sebetulnya masih bisa diatasi dengan cara tepat.

Belum lama setelah insiden kolapsnya pesepak bola Denmark, Christian Eriksen (29), di Piala Eropa 2020, publik di Tanah Air dikejutkan kabar meninggalnya Markis Kido (36), mantan pemain bulu tangkis peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008. Kedua atlet profesional itu sama-sama mengalami kondisi sudden cardiac arrest (SCA) atau yang biasa dikenal dengan istilah ”pembunuh sunyi” oleh kalangan awam.

SCA, yaitu kondisi di mana jantung mendadak berhenti berfungsi untuk memompa darah yang membawa oksigen ke otak dan organ vital lain, sangatlah mematikan bak penembak jitu. Mengacu data American Heart Association’s Heart and Stroke Statistics (2020), 90 persen dari kasus SCA atau henti jantung mendadak yang terjadi di luar rumah sakit berujung pada kematian.

SCA adalah sakaratul maut yang tidak pandang bulu. Yang menakutkan, SCA juga tidak jarang menyambangi orang-orang yang tidak punya riwayat masalah jantung atau memiliki kebiasaan buruk penyerta. Masih ingat Adjie Massaid yang meninggal seusai bermain futsal pada 2011? Padahal, usianya masih 43 tahun dan almarhum sangat rajin berolahraga ketika mengalami henti jantung.

Lalu, belum lama, tepatnya November 2020, mantan pesepak bola nasional, Ricky Yacobi (57), juga mengalami hal sama. Ia mendadak kolaps, tertelungkup di lapangan, dan tidak sadarkan diri ketika bermain bola di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, bersama rekan-rekannya. Ia pun meninggal tidak lama kemudian.

Seperti Yacobi dan Eriksen, Kido juga diduga mengalami SCA ketika berolahraga, yaitu bermain bulu tangkis di GOR Petrolin, Alam Sutera, Tangerang, Banten, Senin (14/6/2021). Ia mendadak terjatuh dalam posisi telungkup. ”Saya duduk di lapangan melihat Kido terjatuh. Saya lari menolong. Dia tidak sadarkan diri dan mengorok,” ujar Candra Wijaya, rekan Kido, seperti dikutip dari laman PBSI.

Lantas, apa sebetulnya SCA dan bagaimana menghadapinya ketika itu menimpa rekan atau orang yang kita cintai? Dr Muh Ikhwan Zein Sp.KO, kandidat doktor University of Amsterdam, Belanda, menjelaskan, SCA alias henti jantung tiba-tiba bisa terjadi kapan saja, tanpa peringatan, dapat menyerang siapa saja meskipun secara fisik tampak sehat.

Namun, SCA umumnya terjadi pada orang yang melakukan olahraga dengan intensitas tinggi, dinamis, dan melakukan pergerakan sesuai irama permainan (stop and go sport), seperti sepak bola, bulu tangkis, basket, dan tenis. Hampir 90 persen kasus kematian mendadak akibat henti jantung terjadi pada saat pemain sedang atau sesaat setelah selesai berolahraga.

Ada sejumlah pemicu terjadinya SCA yang sering kali berujung kasus fatal atau kematian mendadak. Salah satu pemicu adalah gangguan irama jantung. Bilik jantung yang semestinya berdenyut menjadi hanya bergetar saat terjadinya proses ventrikel fibrilasi. Hal itu disebabkan gangguan aliran listrik pada jantung. Anomali itu bisa terjadi akibat penyakit otot jantung, kelainan bawaan, atau gangguan keseimbangan elektrolit tubuh.

Berbeda dengan laga-laga sepak bola besar, seperti Piala Eropa yang berstandar FIFA, mayoritas sarana olahraga rekreasi di Indonesia tidak dilengkapi petugas medis ataupun peralatan canggih, seperti alat pacu jantung otomatis (automatic external defibrilator). Maka, dalam kasus Eriksen, ia bisa selamat berkat langkah sigap. Hal sebaliknya terjadi pada kasus Kido.

Terkait hal itu, selain kehadiran alat pacu jantung di fasilitas publik, Ikhwan menekankan pentingnya pengetahuan masyarakat akan bantuan hidup dasar (basic life support) yang bisa menjadi penyelamat korban SCA. Sebab, tanpa penanganan tepat, korban bisa meninggal hanya dalam hitungan menit saat kolaps terjadi.

”Setiap detik sangat berharga bagi korban henti jantung mendadak. Tanpa adanya bantuan, harapan hidup berkurang 10 persen setiap menitnya. Kita bisa mengupayakan pertolongan pertama sampai tim medis mengambil alih. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah memosisikan korban dalam kondisi telentang,” ujar dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY Yogyakarta itu.

Setelah itu, Ikhwan menyarankan penolong pertama melakukan kompresi jantung menggunakan kedua telapak tangan. Kompresi adalah tindakan untuk menekan jantung secara tidak langsung melalui bagian tengah tulang dada (sternum) dengan kuat dan berirama. Posisinya ada di antara kedua puting. Lalu, berikan tekanan dengan kedalaman sekitar 5 sentimeter dengan frekuensi lebih kurang 100-120 kali per menit.

Kompresi atau resusitasi itulah—yang dilakukan para pemain lain—dan diikuti defibrilasi jantung oleh petugas medis yang lantas menyelamatkan nyawa Eriksen saat kolaps di tengah laga Denmark versus Finlandia, Minggu dini hari WIB lalu. Dengan mengenali gejala SCA dan cara penanganannya, nyawa seseorang bisa diselamatkan.

source:kompas.id