Sejumlah varian baru Covid-19 berada di belakang lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Pembatasan sosial lebih ketat perlu dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran kasus yang lebih luas.

JAKARTA, KOMPAS -— Varian baru SARS-CoV-2 yang lebih menular dan memicu tingkat keparahan telah menyebar luas di sejumlah daerah sehingga menuntut antisipasi segera. Pembatasan sosial yang lebih ketat perlu dilakukan guna mencegah lonjakan kasus lebih tinggi yang akan menyebabkan kolapsnya layanan kesehatan.

Pada Senin (14/6/2021), kasus baru Covid-19 di Indonesia bertambah 8.189 orang, kasus meninggal bertambah 237 orang, dan kasus aktif bertambah 1.809. Dengan demikian, total kasus aktif sebanyak115.197. Penambahan korban jiwa ini juga merupakan yang tertinggi dalam sebulan terakhir dan totalnya 53.116 jiwa.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, jumlah kasus terkonfirmasi positif dalam sepekan terakhir bertambah 38,31 persen dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Adapun jumlah kasus aktif dalam sepekan bertambah 6,62 persen dan kematian bertambah 4,88 persen dibandingkan dengan sepekan sebelumnya.

Tren perawatan di ruang isolasi dalam sepekan bertambah 27,43 persen dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Adapun pasien yang butuh perawatan intensif bertambah 18,09 persen. Secara nasional, keterisian ruang isolasi sudah 53 persen dan ruang perawatan intensif 48 persen dengan tren yang terus meningkat.

”Saat ini tidak mudah lagi mencari tempat perawatan untuk pasien Covid-19 karena sudah mulai penuh, seperti saya alami minggu lalu saat mencarikan rumah sakit untuk saudara. Kasus didominasi kluster keluarga,” kata Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya Darmawan, di Jakarta.

Ede mengkhawatirkan tren penularan ini akan membesar sehingga jumlah pasien tak bisa lagi tertampung di rumah sakit sebagaimana pernah terjadi pada Januari lalu. ”Saat ini untuk masuk rumah sakit di Jakarta sudah harus antre,” ujarnya.

Epidemiolog Indonesia di Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan, peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia saat ini masih fase awal. ”Saat ini peningkatan kasus kemungkinan masih didominasi varian Alfa yang sudah lebih dulu beredar. Dampak dari varian Delta baru akan terasa bulan depan,” ujarnya.

Varian super

Rekapitulasi Kementerian Kesehatan hingga Minggu (13/6/2021) menunjukkan, dari 1.989 analisis sekuens yang dilakukan, telah ditemukan 145 variant of concern di sejumlah daerah di Indonesia, yaitu Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selayan, dan Kalimantan Timur. Tiga varian yang jadi perhatian itu adalah Alfa, Beta, dan Delta.

Varian Alfa ditemukan sebanyak 36, paling banyak di DKI Jakarta, yakni 24. Sementara varian Beta ditemukan 5, yang 4 di antaranya ada di Jakarta. Varian Delta sebanyak 104, paling banyak ditemukan di Jawa Tengah, yaitu Brebes, Cilacap, dan Kudus sebanyak 75.

Menurut Dicky, Delta ini merupakan varian super karena memenuhi tiga kriteria yang membahayakan, yaitu lebih cepat menular, menimbulkan keparahan, dan bisa menyiasati antibodi yang sudah terbentuk. ”Dibandingkan dengan varian Alfa, varian Delta ini bisa 50-70 persen lebih menular,” ujarnya.

Varian Delta, menurut Dicky, juga menyebabkan orang lebih banyak di rumah sakit. Dibandingkan dengan varian Alfa, varian Delta ini di Inggris terbukti meningkatkan keparahan pasien sampai 2,5 kali lebih tinggi. ”Varian ini juga bisa menyiasati sistem imunitas. Orang yang sudah divaksin juga masih bisa kena, apalagi yang belum divaksin. Termasuk yang sudah pernah tertular, juga bisa kena lagi,” tuturnya.

Belajar dari India, varian baru ini bisa meluluhlantakkan sistem kesehatan di sana sehingga menyebabkan tingginya korban jiwa. ”Dengan seriusnya ancaman varian Delta ini, saya melihat kewaspadaan di publik belum terbangun. Bahkan, di kalangan pemerintah juga cenderung abai, perkantoran, pertemuan dan perjalanan dinas juga masih tinggi,” tuturnya.

Perketat pembatasan

Ede mengatakan, dengan tren saat ini, seharusnya ada langkah cepat untuk membatasi mobilitas. Keterlambatan mencegah penularan yang lebih luas dikhawatirkan akan memicu bencana besar. ”Sekarang saatnya ada pembatasan lebih ketat lagi. Kita tidak bisa menganggap varian ini sama dengan sebelumnya. Harus ekstra langkahnya. Untuk Jakarta dan kota-kota besar lainnya, aktivitas perkantoran harus kembali dikurangi dengan kembali bekerja dari rumah,” tuturnya.

Menurut dia, kluster keluarga yang bermunculan di Jakarta saat ini terkait erat dengan kluster perkantoran dan demikian sebaliknya dari keluarga bisa memicu kluster perkantoran. ”Pengalaman keluarga saya, awalnya dari perkantoran lalu menyebar ke keluarga,” ujarnya.

sumber : kompas.id