Perkembangan moda transportasi memudahkan kita untuk melakukan perjalanan. Meskipun menyenangkan, penggunaan kendaraan pada beberapa orang menimbulkan mabuk perjalanan.

Ya, kejadian tak menyenangkan berupa mabuk perjalanan ini rupanya sangat sering terjadi. Menurut National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat, 1 dari 3 orang rentan terkena mabuk perjalanan. Wanita (khususnya saat menstruasi atau hamil) dan anak-anak lebih rentan mabuk perjalanan. Selain itu, orang-orang Asia ditemukan lebih rentan terkena mabuk perjalanan dibanding orang Eropa.

Bepergian dengan mobil, kereta, bus, pesawat, ataupun kapal, dapat mengakibatkan motion sickness. Inilah serangkaian gejala fisiologis yang dapat dirasakan setelah mendapatkan rangsangan fisik, visual, maupun virtual.

Mekanisme penyebabnya belum diketahui secara pasti. Tapi, teori yang paling banyak digunakan bahwa mabuk perjalanan terjadi akibat perbedaan persepsi pergerakan yang diterima mata dan telinga. Misalnya saat duduk di dalam mobil, mata yang tertuju pada kursi mobil membuat otak merasa kita sedang diam. Walaupun begitu, sistem vestibular di dalam telinga yang berperan dalam keseimbangan tubuh menyatakan bahwa kita sedang bergerak. Ketidaksesuaian ini yang membuat otak bingung lantas dan terjadilah motion sickness. Untungnya, hal ini menunjukkan bahwa fungsi sistem vestibular kita bekerja dengan baik.

Gejala utama mabuk perjalanan adalah mual dan muntah. Selain itu, ada yang mengeluh berkeringat, sakit kepala, kesulitan berjalan dengan stabil, mengantuk, lelah, pucat, dan iritabilitas.

Sama halnya dengan mekanisme yang belum diketahui secara pasti, pengobatan untuk mabuk perjalanan yang bersifat permanen belum ditemukan. Untungnya, menurut Andrew Brainard MD, MPH, FACEM, FACEP dan Chip Gresham MD, FACEM, FAAEM dari Middlemore Hospital, Aucland, Selandia Baru, membiasakan diri bepergian dapat menurunkan kerentanan seseorang untuk terkena mabuk kendaraan. ’’Upayakan mengurangi efek mabuk kendaraan dengan tidak membaca buku, menonton film, ataupun menggunakan alat elektronik,’’ beber Brainard.

Tidak melihat objek yang bergerak seperti mobil yang lewat ataupun ombak di sekitar kapal, sambung dia, bisa mengurangi kemungkinan mabuk perjalanan. Sebaliknya, lebih aman memandang objek yang stabil, seperti langit. Melihat lurus ke depan juga dapat membantu. ’’Selama perjalanan hendaknya bepergian tidak dalam keadaan perut kosong, cukup minum, menutup mata, dan mendengarkan musik,’’ saran Gresham.

Li‐Li Zhang dari Department of Pharmacology, Second Military Medical University, Shanghai, China dalam publikasi berjudul Motion Sickness: Current Knowledge and Recent Advance yang dimuat di jurnal CNS Neuroscience & Therapeutics mengungkapkan, ada dua golongan obat untuk mengatasi mabuk perjalanan. Antikolinergik dan antihistamin. Obat golongan antikolinergik tersering digunakan adalah scopolamine yang membutuhkan resep dokter. Cara penggunaannya adalah dengan menempelkan patch di belakang telinga paling lama empat jam sebelum bepergian. Beberapa obat-obatan antihistamin adalah cinnarizine, dimenhydrinate, diphenhydramine, cyclizine, meclizine, dan promethazine.

Selain obat-obatan, bahan herbal alami yang biasa digunakan untuk penanganan ataupun mencegah adalah jahe dan peppermint. Bila mengalami kondisi khusus, misalnya hamil, hendaknya berkonsultasi dengan dokter sebelum bepergian dan tak sembarangan minum obat. Jika perjalanan sudah berakhir tetapi motion sickness tak kunjung berakhir jangan diabaikan. Lebih baik segera berobat.

Source; Ika FK Unair