Para ibu hamil kerap bingung antara puasa atau tidak selama Ramadan. Di satu sisi, mereka takut nutrisi janin akan berkurang dan membuat mereka lemah, letih, serta lesu. Di sisi lain, para ibu ingin menjalankan perintah agama.

Puasa itu dinikmati bukan untuk dikeluhkan. Tentu, ibu hamil bisa merencanakan serta mempersiapkan diri. ’’Saat sahur dan buka puasa, mereka hendaknya memperhatikan menu. Sebab, kecukupan nutrisi membantu ibu hamil menjalani puasa,’’ ungkap Nasrudin Andi Mappawar dalam publikasinya yang berjudul Puasa pada Wanita Hamil dan Menyusui di UMI Medical Journal.

Ibu hamil tidak perlu memaksakan diri salat tarawih di masjid. Ketika lelah, bisa tarawih di rumah sehingga tidak akan membebani ibu. Olahraga ringan disarankan agar badan tetap bugar dan janin sehat. Pilihannya, jalan pagi atau sore, yoga, maupun senam ibu hamil.

Ibu bekerja bisa berkonsultasi ke dokter tentang kehamilannya dan mengatur aktivitas agar tidak terlalu lelah. Aktivitas naik turun tangga yang berisiko jatuh, mengangkat barang sangat melelahkan, serta banyak berdiri hendaknya dihindari. Demikian pula aktivitas di ketinggian dengan tekanan udara yang rendah.

Sumarno Abdi Subrata dalam publikasi bertajuk Puasa Ramadhan Dalam Perspektif Kesehatan: Literature Review yang dimuat di Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora menyarankan, ibu hamil yang berencana berpuasa ke dokter kandungan. ’’Pada intinya, tidak ada larangan berpuasa bagi ibu hamil,’’ urai dosen Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang tersebut.

Puasa memungkinkan dilakukan saat ibu hamil sudah tidak lagi mual dan muntah. Biasanya setelah kehamilan memasuki usia 16-18 minggu. Kondisi yang baik untuk puasa antara lain, sehat, kadar hemoglobin minimal 10 gram/dL, dan tekanan darah normal. Kesesuaian perkiraan berat janin dan usia kehamilan menjadi pertimbangan. Sehingga bisa diperkirakan tidak terjadi kelambatan pertumbuhan janin.

Selama berpuasa, ibu tak perlu takut kehilangan energi. Selain dari makan sahur dan berbuka puasa, cadangan energi bisa diambil dari hati, otot, dan lemak bawah kulit. ’’Justru puasa memobilisasi cadangan energi agar tidak tertimbun sehingga berdampak kegemukan,’’ sebut Sumarno.

Berikut contoh pola makan saat puasa.

  • Makan sahur sedekat mungkin dengan waktu imsak. Konsumsi protein dan lemak dalam jumlah cukup, karena keduanya tahan lama di pencernaan sehingga memperlambat rasa lapar.
  • Saat berbuka, mulailah dengan makanan hangat dan manis. Agar mendapatkan energi pengganti, bisa mengonsunmsi takjil berupa karbohidrat yang mudah diserap tubuh. Misalnya kurma maupun teh manis.
  • Setelah salat, saatnya makan makanan utama secukupnya.
  • Sehabis salat tarawih, usahakan makan lagi dalam porsi kecil.
  • Kebutuhan air 8-10 gelas sehari dapat dibagi menjadi tiga gelas saat sahur dan 5-7 gelas ketika berbuka hingga menjelang tidur. Usahakan minum susu saat sahur dan berbuka, serta tetap minum vitamin dan suplemen yang diresepkan dokter.

 

sumber: http://news.ika-fk-unair.org/news-detail/ibu-hamil-sehat-bisa-rencanakan-berpuasa