’Pakai yang warna pink, ah. Biar cocok sama bajuku, hihihi.’’

’’Kalau mau ke swalayan, sih, santai! Pakai masker kain saja!’’

’’Aku mau beli N95 yang karetnya kuning itu, biar keren kayak dokter-dokter!’’

Sejauh mata memandang hampir semua orang memakai masker. Benda mungil bertali elastis yang menutup sekitar dua pertiga bagian wajah ini semakin familier menghiasi ekspresi diri yang hendak ditampilkan. Seiring berjalannya waktu, masker menjadi bagian dari atribut wajib seluruh warga negara. Terutama, sejak pandemi Covid-19 melanda.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengimbau masyarakat untuk tidak menyepelekan penggunaan masker. Hal ini sesuai rekomendasi World Health Organization (WHO) yang menganjurkan masyarakat untuk memakai masker.

Belakangan, pemakaian jenis masker sering diperdebatkan. Masyarakat mempertanyakan jenis masker yang sebenarnya tepat untuk dipakai. Terlebih, masker bisa dengan sangat mudah diperoleh. Mulai dari aplikasi swalayan berbasis daring yang menjual berbagai jenis masker hingga pembagian masker gratis dari para mahasiswa dan aktivis. Masker pun menjadi tren dalam dunia tata busana. Aneka warna, matching dengan pakaian yang dikenakan, hingga masker motif batik karya anak bangsa kian banyak bermunculan bersamaan dengan jiwa siaga Covid-19 masyarakat yang semakin tumbuh.

Lantas, jenis masker seperti apa yang efektif menangkal virus?

Eits, jangan salah paham terlebih dahulu. Sebagaimana dikutip dari website resmi WHO, tidak ada masker yang dapat 100 persen menangkal virus. Meskipun demikian, masker dikategorikan sebagai alat pelindung diri (APD) yang harus tetap digunakan.

Tetap waspada ya. Karena, penggunaan masker yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko penularan Covid-19 melalui udara dan droplets (percikan ludah berukuran kecil yang dikeluarkan saat bicara). Wah, padahal ada masker tiga lapis, empat lapis, hingga berlapis-lapis. Harus pilih yang mana? Apakah semakin berlapis justru semakin baik?

Jangan cuma ingin kenal gebetan. Yuk, kenalan dengan enam macam masker berikut ini!

 

Masker Kain

Sesuai namanya, masker ini terbuat dari kain. Ada sutera, wol, ataupun katun. Masker ini kurang dianjurkan karena memiliki pori-pori lebar dan tingkat penyaringan yang rendah. Masker kain boleh-boleh saja digunakan, asalkan setidaknya terdiri atas tiga lapisan. Lapisan terluar sebagai antiserap, lapisan kedua sebagai penyaring, dan lapisan dalam sebagai penyerap.

Masker Bedah

Kalau bukan hijau, ya biru. Yup! Inilah karakteristik dari masker bedah. Masker ini sangat berkesan di benak masyarakat. Bagaimana tidak, harganya sempat melambung tinggi dan keberadaannya super duper langka saat pandemi Covid-19 pertama kali menghantam Indonesia. Selain warnanya yang khas, masker ini juga memiliki karakteristik terdiri atas tiga lapis. Masker ini dianjurkan untuk dipakai sehari-hari. Harganya lebih bersahabat dibandingkan masker-masker lain dengan tingkat penyaringan yang lebih tinggi. Selain itu, studi pada 2013 mengungkap bahwa masker ini memiliki efektivitas tiga kali lebih besar untuk menangkal droplets daripada masker kain.

Masker Duckbill

Dinamakan duckbill karena bentuk masker ini mirip moncong bebek. Menurut Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, masker ini memiliki kualitas yang setara dengan masker bedah. Hanya saja, masker ini memiliki permukaan yang lebih halus dan harga yang relatif lebih mahal. Efektivitas masker ini sebesar 95 persen untuk menyaring partikel yang masuk.

Masker KF94

’’KF adalah singkatan dari korean filter. Efektivitas masker ini lebih tinggi dibandingkan duckbill, tapi lebih rendah kalau dibandingkan KN95,’’ urai asisten profesor kedokteran darurat Sara Andabi, M.D. dari Baylor College of Medicine, AS. Masker ini memang berasal dari Korea Selatan. Sesuai namanya, masker ini memiliki efektivitas 94 persen untuk menyaring partikel sebesar 0,3 mikron. Kelebihan dari masker ini adalah sisi samping yang mampu menjangkau seluruh bagian pipi sehingga tidak ada celah terbuka bila dipakai.

Masker KN95

Masker KN95 merupakan masker standar tenaga medis di China. Masker ini memiliki kemampuan 95 persen untuk menyaring droplets hingga aerosol (droplets yang lebih kecil) sebesar 0,3 mikron. Namun, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) belum menegaskan standarisasi masker KN95. Masker ini hanya dilabeli sebagai masker medis biasa. Meskipun daya saringnya cukup bagus, masker ini kurang efektif bila dibandingkan dengan masker N95. Masyarakat boleh-boleh saja mengenakan masker KN95. Sebab, pelindung jenis ini diklaim aman untuk bepergian ke swalayan atau tempat umum dengan risiko penularan rendah hingga sedang.

Masker N95

Keras, tapi lembut. Ya! Masker ini memiliki permukaan yang keras dengan daya penyerapan partikel sebesar 0,25 mikron dan efektivitas 95 persen. Tapi, tetap lembut di wajah saat dipakai. Masker ini merupakan masker standar AS, pun telah disertifikasi WHO dan NIOSH. Sebuah studi dari Jurnal American Medical Association menilai bahwa masker ini adalah satu-satunya masker yang memiliki daya perlindungan stabil terhadap aerosol Covid-19. Meski begitu, untuk saat ini, masker N95 hanya ditujukan bagi para tenaga medis.

 

Selain pakai masker, protokol kesehatan seperti cuci tangan dan menjaga jarak harus digalakkan, dong, untuk meningkatkan efektivitas pencegahan Covid-19. Yang terpenting, jangan memakai masker kecantikan saat keluar rumah, ya!

source :sumber asli