Ilustrasi Kasus

Enam bulan setelah dinyatakan mengalami penyakit tuberkulosis (TB) oleh dokter dan menjalani pengobatan, Malik (bukan nama sebenarnya), seorang pria berumur 34th, masih belum dinyatakan sembuh. Pada hasil pemeriksaan dahaknya masih ditemukan bakteri Mycobacterium tuberculosis di paru-parunya. Melalui diskusi dengan dokter, diketahui Malik kadang tak meminum obat yang seharusnya dikonsumsi rutin setiap hari. Rasa bosan kerap membuatnya melewatkan minum obat. Apalagi keluarganya tampak acuh tak acuh dengan pengobatan yang ia jalani dan tak ada yang mendampinginya. Akibatnya, pengobatan yang ia jalani dinyatakan gagal – ia harus mengulang pengobatannya dari awal.

Pada pemeriksaan lebih lanjut, didapatkan bahwa ternyata TB yang menginfeksi Malik telah berkembang menjadi TB yang lebih parah dan berbahaya. Bakteri TB yang ada pada dirinya sudah memiliki ketahanan terhadap obat-obatan yang umum digunakan untuk mengobatinya. Dokter pun harus memberikan obat yang berbeda dengan dosis yang lebih tinggi, dengan tetap mewaspadai efek samping yang mungkin muncul. Fenomena yang dialami Malik adalah sebuah potongan cerita mengenai Tuberkulosis Resisten Obat.

Apa Itu Tuberkulosis

Tuberculosis (TB) atau yang sering dikenal dengan TB merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterius tuberculosis. TB menjadi sangat dikenal di Indonesia dengan kasus penyebaran yang sangat tinggi. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi negara ketiga terbesar dengan kasus TB di dunia setelah India dan China.

Menurut data Kemenkes, estimasi kasus TB di Indonesia mencapai 845.000 jiwa dan yang telah ditemukan sekitar 69 persen atau sekitar 540.000 jiwa. Angka kematian penyakit TB juga cukup tinggi, yaitu ada 13 orang per jam yang meninggal karena TB. Kasus yang belum ditemukan juga memiliki potensi penularan yang sangat tinggi, sama seperti COVID-19. Walaupun sama-sama berbahaya dan menular melalui droplet serta saluran pernapasan, Wiendra menjelaskan bahwa ada beberapa perbedaan antara TB dengan COVID-19, mulai dari gejala hingga cara penanganannya.

TB dalam Bayang-Bayang Pandemi COVID-19

Pandemi Covid-19 membawa kerisauan tersendiri bagi pasien TB di Indonesia. Kerisauan ini dinilai turut berdampak pada keengganan pasien TB untuk berobat ke rumah sakit hingga menurunnya temuan kasus baru TB. Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) per 16 Juli 2020, selama bulan Januari – Juni 2020, jumlah kasus TB di Indonesia mengalami tren penurunan cukup besar, di bulan Januari sejumlah 31.216 kasus sedangkan di bulan Juni 11.839 kasus. Dibandingkan 2019, perbedaannya juga sangat terlihat. Seperti di bulan Januari, ada selisih jumlah kasus sebesar 21.957 kasus. Pengendalian penyakit TB selama pandemi COVID-19 turut mengalami beberapa hambatan, terlebih karena kekhawatiran pasien TB serta pihak rumah sakit dalam melakukan pemeriksaan. Pasien tidak bisa ke layanan kesehatan karena takut, kemudian fasilitas kesehatan juga sekarang takut memeriksa pasien TB, terlebih pada COVID-19.

Sementara, pelayanan TB tidak bisa berhenti, karena kasus yang tinggi dan terlebih pasien TB harus mendapatkan penanganan tuntas hingga dinyatakan sembuh dari penyakit yang dialaminya. Pengobatan TB membutuhkan waktu yang lama minimal 6 bulan. Terhentinya pengobatan TB sebelum pengobatan itu selesai merupakan salah satu faktor yang meningkatkan risiko berubahnya kuman Mycobacterium tuberculosis menjadi resisten obat. Dengan kata lain pandemi ini mengancam untuk meningkatnya kasus Tuberkulosis resisten obat (TB-RO).

Definisi TB-RO

WHO mendefinisikan TB-RO sebagai penyakit TB yang tidak dapat diobati dengan setidaknya 2 obat TB lini pertama, yaitu rifampicin dan isoniazid. Terdapat 2 kelompok dalam TB-RO berdasarkan jenis dan jumlah obat yang tidak efektif dalam pengobatannya, yaitu MDR-TB (multidrug resistant TB) dan XDR-TB (extensively-drug resistant TB). Sedangkan, aspek lain dari TB tetap sama dengan kasus-kasus lainnya. Penularan TB-RO menular antar-orang melalui percikan droplet berupa air liur atau dahak yang menyebar saat penderita batuk dan membuang dahak secara sembarangan. Proses penyakitnya pun serupa, tetapi cenderung lebih berat karena lebih sulit diobati.

Penyebab terjadinya TB-RO

Pada wilayah-wilayah tertentu di dunia, seperti di Indonesia, infeksi bakteri M. tuberculosis sebenarnya merupakan hal yang lumrah, tetapi tidak semuanya mengalami sakit TB. Penyakit TB baru terjadi ketika orang yang terinfeksi bakteri M. tuberculosis berada dalam kondisi imunitas atau kekebalan tubuh yang tidak optimal. Pada situasi itulah muncul gejala-gejala klinis TB, seperti batuk kronik, demam, penurunan nafsu makan dan berat badan, keringat malam, dan sebagainya. Diagnosis TB sendiri ditegakkan melalui pemeriksaan dokter dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen dan pemeriksaan dahak. Setelah diagnosis TB ditegakkan, maka pasien akan menjalani pengobatan yang umumnya berlangsung selama 6 bulan dengan kombinasi beberapa obat.

TB-RO kemudian dapat terjadi akibat berbagai faktor. Penelitian oleh Seung pada tahun 2015 menjelaskan terdapat 4 faktor utama: pengobatan yang tidak benar, durasi pengobatan yang tidak adekuat, penularan TB-RO di masyarakat umum, dan infeksi di fasilitas kesehatan (infeksi nosokomial).

Di Indonesiapenyebab munculnya TB-RO terutama berkaitan dengan alur dan pelaksanaan pengobatan yang tidak adekuat. Pasien mungkin tidak meminum obat secara rutin, atau petugas kesehatannya yang kurang tepat memberikan dosis obat. Pengawasan terhadap pasien yang menjalani pengobatan masih lemah. Selain itu, ada kemungkinan hasil pemeriksaan laboratorium yang kurang akurat mendeteksi TB. Bakteri M. tuberculosis sendiri dapat mengalami mutasi atau perubahan susunan genetik sehingga mampu menahan efek antibiotik. Meski mutasi memang terjadi secara alami, jumlah bakteri yang memiliki mutasi tersebut dapat meningkat ketika seseorang tidak mendapatkan pengobatan yang tepat.

Situasi TB-RO Nasional dan Global

TB-RO telah menjadi masalah kesehatan hampir di seluruh dunia. Secara global 465.000 orang terinfeksi TB-RO pada 2019, meningkat 10% dari tahun sebelumnya. Di Indonesia, angka temuan kasus TB-RO juga tidak sedikit. Data tahun 2020 menunjukan terdapat 11.463 kasus yang terkonfirmasi TB-RO. Angka ini jelas mengkhawatirkan karena TB-RO sulit diobati, pengobatannya rentan efek samping, dan angka keberhasilan pengobatan dan dinyatakan sembuh dari TB-RO baru mencapai angka  45%.

Dampak Munculnya TB-RO

Meski perubahan genetik yang menyebabkan resistensi obat pada bakteri M. tuberculosis merupakan sesuatu yang dapat dikatakan “kecil”, dampaknya dapat dirasakan oleh mereka yang terinfeksi, orang di sekitarnya, dan di tingkat nasional maupun global.

TB-RO sulit dideteksi karena gejala pada TB-RO tidak berbeda dengan TB biasa. Keluhan yang umum adalah batuk lebih dari 2 minggu, dapat disertai dahak dan darah, keringat di malam hari, lesu, nyeri dada, dan kehilangan nafsu makan. Kesamaan gejala ini menyebabkan dokter tidak dapat serta-merta mengetahui seseorang mengalami TB-RO, padahal TB-RO akan membutuhkan pengobatan yang berbeda.

Masa pengobatan TB-RO lebih lama dibandingkan dengan TB biasa karena memerlukan waktu 9-12 bulan, sedangkan TB biasa umumnya hanya 6 bulan. Dalam podcast Relatif Perspektif Episode Spesial Hari TB Sedunia, dr Erlina Burhan, SpP(K) seorang pakar paru di Indonesia menjelaskan bahwa untungnya sekarang semua obat yang diberikan adalah obat oral alias obat minum, tidak lagi obat suntik yang mengharuskan pasien datang ke faskes setiap hari. Namun, pengobatan itu tetap harus dijalankan secara konsisten. Oleh karena itu, pasien TB memerlukan pengawas minum obat (PMO) sebagai orang yang akan mendampingi dan mengingatkan pasien untuk menyelesaikan pengobatan sesuai arahan dokter. Sebaliknya, peran PMO yang tidak optimal berpengaruh pada kegagalan pengobatan yang dapat berujung pada TB-RO.

Dukungan dari tenaga kesehatan dan PMO pun menjadi semakin penting karena pengobatan TB-RO, dengan obat yang berbeda dan dosis yang relatif tinggi, memiliki risiko efek samping yang lebih tinggi juga. Efek samping yang dirasakan paling banyak oleh pasien penderita TB-RO yang harus meminum antibiotik secara rutin adalah masalah pencernaan yaitu gastritis dan muntah, serta gangguan pengecapan, nyeri kepala, hingga gejala depresi.

Strategi Pencegahan dan Tantangan dimasa Pandemi

Pencegahan TB-RO perlu melibatkan pemangku kepentingan lintas sektor tak terbatas di bidang kesehatan saja, apalagi di masa pandemi COVID-19 ini. Kementerian Kesehatan RI sebenarnya sudah membuat kebijakan strategi menurunkan angka TB secara umum. Strategi itu meliputi penguatan akses pelayanan kesehatan dan sarana-prasarana penunjang, membuat kemitraan dengan berbagai sektor, dan penguatan program. Dalam menjalankan strategi itulah pemegang kebijakan kesehatan perlu melibatkan pemegang kebijakan dari sektor lain. Contohnya, Dinas Pekerjaan Umum dapat berperan karena TB kerap terjadi di daerah pemukiman padat. Selain itu, NGO seperti STPI dapat dilibatkan untuk aktif terjun ke lapangan. Pemerintah perlu meningkatkan koordinasi antarlembaga sehingga kebijakan yang dibuat benar-benar dirasakan masyarakat.

Teknologi akan menjadi bagian penting dari penanggulangan TB, demi mencegah semakin berkembangnya TB-RO. Menurut dr Erlina, PMO yang dulu merupakan keluarga pasien sebagai pengawas pasien minum obat dapat digantikan oleh teknologi terbaru, seperti video call untuk pengawasan. Teknologi diagnostik pun perlu ditingkatkan pemanfaatannya. Untuk saat ini, alat deteksi lini pertama untuk TB-RO adalah GeneXpert, kemudian bisa dilanjutkan dengan pemeriksaan biakan dan histologi jaringan. GeneXpert sudah tersedia di seluruh provinsi di Indonesia, tetapi perlu koordinasi yang baik antara kawasan perifer dengan kawasan yang memiliki fasilitas GeneXpert agar mereka pun mendapatkan akses yang terjamin.

Pandemi Covid-19 ini selain bisa dilihat sebagai tantangan dalam penanganan TB di Indonesia, perlu dilihat sebagai kesempatan untuk memperbaiki penanganan TB di Indonesia. Memahami kompleksnya tantangan pencegahan dan penanggulangan TB-RO, jelas masalah ini tak akan usai apabila diserahkan hanya pada mereka yang berada di sektor kesehatan saja. Akan diperlukan kolaborasi yang kuat antara pasien, pelaku rawat, masyarakat, tenaga kesehatan, dan para pembuat kebijakan. Pemanfaatan kemajuan teknologi baik untuk pengawasan minum obat, deteksi dini serta pengobatan TB harus segera diakselerasi. Realokasi fasilitas dan sumber daya untuk TB ke dalam penanganan Covid-19, harus segera dievaluasi ulang jika tidak ingin menimbulkan masalah di masa mendatang seperti meningkatnya kasus TB-RO.  Dengan demikian political will dari pemangku kebijakan akan menentukan pendelum yang tidak berujung pada meladaknya bom waktu  kasus TB-RO setelah pandemi ini selesai.

sumber : https://relatifperspektif.id/article/Tuberkulosis-Resisten-Obat-TB-RO-Menunggu-Meledaknya-Bom-Waktu-Akibat-Pandemi