istimewa

 

Admin, Hari Gizi Nasional diperingati setiap 25 Januari. Salah satu pegiat kesehatan nasional, CIMSA Unair (Center of Indonesia Medical Student Association) ikut memeriahkan momen tersebut. Topik yang dibahas pada Instagram Live Senin malam (25/1) adalah Fast Food Phenomenon: Obesity among Teenagers. Kak Khodijah, perwakilan LSM pemerhati pangan nasional FoodBank of Indonesia, menyampaikan materi secara langsung.

Dewasa ini, fast food atau yang biasa kita kenal sebagai makanan cepat saji digandrungi sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Awalnya, Khodijah menceritakan, makanan cepat saji terbentuk karena pekerja di negara barat tidak bisa menyiapkan makanan karena kesibukannya. Seiring berjalannya waktu, jenis makanan ini menyebar ke seluruh dunia. Lantas, muncul di Indonesia pada kisaran 1970.

Makanan jenis ini memudahkan umat manusia, lalu apa yang menjadi masalah? Dijelaskannya, makanan cepat saji adalah jenis makanan yang telah mengalami berbagai proses pemasakan. Namun, banyak di antaranya yang memiliki komposisi gizi tidak berimbang seperti tinggi garam, gula, lemak, serta rendah serat dan protein.

Meski begitu, Khodijah menambahkan, masih terdapat beberapa makanan cepat saji yang sehat. Sebut saja, salad, biskuit gandum, dan jus. ’’Namun kalau sudah ditambah-tambahi dengan bahan makanan lain dengan takaran yang tidak seimbang berpotensi menjadi makanan cepat saji yang tidak sehat,’’ ujarnya.

Dampak yang ditimbulkan biasanya muncul dalam jangka waktu yang lama. Bisa kegemukan, termasuk di sini overweight maupun obesitas. Selain itu, pada kalangan yang sensitif terhadap komponen makanan bisa pusing atau mual.

Dampak paling serius adalah silent progression dari beberapa penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, penyakit jantung, dan gangguan kecerdasan. ’’Tidak mengejutkan bahwa beberapa kelompok usia remaja dan dewasa sudah menderita penyakit ini,’’ tuturnya. Padahal, lanjut dia, gangguan kesehatan tersebut biasanya dijumpai pada usia tua.

Demi mencegah semakin membeludaknya kebiasaan ini, Khodijah memberikan beberapa strategi untuk mengatasinya. Pertama, sugestikan pikiran diri sendiri bahwa makanan ini bukanlah makanan yang sehat dan bisa sering dikonsumsi. Kedua, sering minum air putih karena bersifat mengenyangkan. ’’Sehingga mengurangi rasa lapar dan mengontrol makan kita,’’ bebernya.

Ketiga, memperbanyak konsumsi sayuran. Bagi mereka yang tidak suka, dapat diakali dengan memotong sayuran kecil-kecil dan ditambahkan pada makanan yang kita sukai. Keempat, ganti camilan dengan buah atau makanan lokal yang memiliki beberapa persamaan. Kelima, buat jadwal makan makanan cepat saji. Kalau melanggar akan mendapatkan sanksi seperti push-up.

Khadijah menyebutkan, ada beberapa tantangan dalam menangani fenomena ini. Selain individu, berbagai komunitas, hingga lingkup politik memiliki peran yang cukup signifikan. Salah satu contohnya, alasan makanan cepat saji dapat menggerakkan roda perekonomian. Sehingga beberapa kebijakan atau program masih belum bersifat tegas mengaturnya.

Salah satu hal yang dikhawatirkan adalah fenomena ini masih merajalela. Oleh karena itu, intervensi harus melibatkan beragam sektor. ’’Contohnya, ajakan meningkatkan konsumsi makanan lokal atau konten seputar makanan sehat,’’ kata social program officer Foodbank of Indonenesia tersebut.

sumber :  http://news.ika-fk-unair.org/news-detail/lawan-fast-food-phenomenon-dari-diri-sendiri