Pandemi Covid-19 masih berlangsung. Kehilangan menjadi fase yang kerap kita alami. Mulai kehilangan pekerjaan, kehilangan kesempatan bersua secara langsung, maupun kehilangan anggota keluarga. Bahkan, ada yang anggota keluarganya meninggal lebih dari satu orang sekaligus. Sementara anggota keluarga yang ’sehat’ dalam keadaan berduka sedang isolasi mandiri di rumah. Tetangga serta kerabat tak mungkin berkunjung, apalagi mendampingi selama masa berduka.

Dokter Nalini Muhdi Sp.KJ(K) menjelaskan beberapa hal tentang Covid-19. Selain penyakit baru, hal-hal yang berkaitan dengan Covid-19 tergolong membingungkan. Bukan hanya masyarakat yang bingung, riset pun memberikan beraneka hasil. Ketidakpastiannya pun tinggi.
’’Covid-19 ini kan seperti horor, mendengarnya saja kita bisa cemas. Duka citanya pun kompleks dan rumit,’’ jelas psikiater yang berdinas di RSUD dr Soetomo Surabaya tersebut. Hal ini dipengaruhi siapa yang meninggal, seberapa kelekatannya, kepribadian yang ditinggalkan, aspek sosial, serta dukungan keluarga.

Di antara beragam kehilangan yang telah disebutkan, kematian adalah sebuah kehilangan yang sangat besar. Terlebih kematian yang berkaitan dengan Covid-19. Misalnya, ketika diketahui hasil pemeriksaan seseorang positif. Ada ketidakpastian dalam berapa hari si sakit sembuh. Ketika harus menjalani rawat inap di rumah sakit pun, dia tak mungkin dijenguk maupun ditemani. Tak jarang kondisi si sakit memburuk dalam waktu cepat. ’’Kondisi ini memberikan imajinasi yang buruk pada keluarga yang di rumah,’’ kata Nalini saat diwawancarai dokter Jumat (8/1).

Bila kondisi si sakit kian parah, kesempatan keluarga menemani si sakit di saat-saat terakhirnya tidak ada. Termasuk, tidak bisa ’menuntun’ si sakit dengan doa dan tidak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali. Padahal, orang yang meninggal idealnya dikelilingi orang yang dicintainya. Pada masa pandemi ini, hal-hal tersebut menjadi tidak bisa dilakukan. Bahkan, ritual hingga doa bersama yang biasanya ada menjadi tidak ada.’’Ini menambah rasa duka cita dan rasa bersalah,’’ ungkapnya.

Sedangkan untuk fase duka cita, sesuai teori dr Elisabeth Kubler-Ross. Ada lima tahapan yang dirasakan individu ketika harus kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya. Meliputi, denial (penolakan), anger (marah), bargaining (tawar menawar pada kesedihan yang dialami), depression (kesedihan yang sangat mendalam), dan acceptance (menerima kenyataan dengan ikhlas, tenang, dan emosi mulai kembali stabil).
’’Fase ini bisa muncul cepat, bisa juga lambat. Bisa berlangsung sebentar, bisa juga berlangsung terus-menerus,’’ tuturnya. Gejala dari masing-masing fase pun beragam. Bisa ringan, bisa berat. Kondisi tersebut dipengaruhi tiga faktor yang saling berkaitan. Yakni, faktor kognitif, afektif, serta behavior psikomotor.

sumber : http://news.ika-fk-unair.org/news-detail/berduka-karena-covid-19-itu-rumit